Breaking News
light_mode
Beranda » Nasional » BULOG Hadiri Nusantara Food Summit 2025, Dorong Generasi Muda Jadi Pelaku Rantai Pasok Pangan

BULOG Hadiri Nusantara Food Summit 2025, Dorong Generasi Muda Jadi Pelaku Rantai Pasok Pangan

  • account_circle Aslam
  • calendar_month Jum, 7 Nov 2025
BULOG berpartisipasi dalam Nusantara Food Summit 2025 yang digelar di ICE BSD City, Tangerang, Kamis (6/11/2025). (Dok. BULOG)

MAJALAHMERAHPUTIH.COM – Perum BULOG menunjukkan komitmennya terhadap penguatan ketahanan pangan nasional dengan berpartisipasi dalam Nusantara Food Summit 2025 yang digelar di ICE BSD City, Tangerang, Kamis (6/11/2025).

Ajang ini mengusung tema besar “Food Security 2.0: Mewujudkan Kemandirian Pangan dengan Membangun Kembali Sistem Pangan dan Peran Strategis Generasi Muda.”

Dalam kegiatan tersebut, BULOG turut ambil bagian melalui sesi panel diskusi yang menghadirkan Direktur Bisnis Perum BULOG, Febby Novita, sebagai salah satu narasumber.

Forum ini menjadi wadah kolaboratif yang mempertemukan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas pangan, hingga generasi muda.

Tujuannya adalah membangun ekosistem industri pangan nasional yang sehat, berkelanjutan, serta mampu membuka jalur karier nyata bagi kalangan milenial dan Gen Z.
Diskusi tersebut menyoroti roadmap pangan Indonesia 2025–2026 yang sejalan dengan agenda prioritas nasional di era pemerintahan Presiden Prabowo, serta arah jangka panjang Pangan Indonesia 2045 yang menitikberatkan pada ketahanan, diversifikasi, dan industrialisasi pangan lokal.
Dalam kesempatan ini, BULOG hadir bersama para narasumber lain seperti Maria Nunik Sumartini dari Kementerian Pertanian dan Tubagus Syailendra, CEO Chickin Indonesia.

Febby Novita menyampaikan bahwa kondisi pangan nasional saat ini menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.

“Alhamdulillah, di tahun 2025 ini Indonesia tidak melakukan impor beras.
“Ini merupakan keberhasilan pemerintah dalam meningkatkan produksi pangan dalam negeri,” ujarnya.

Ia menjelaskan, BULOG memiliki peran ganda dalam menjaga stabilitas pangan nasional, yakni menyerap gabah atau beras petani di hulu dan menstabilkan harga di hilir.

“Ketika harga pangan naik di suatu daerah, BULOG harus turun untuk melakukan operasi stabilisasi,” tambahnya.
Lebih lanjut, Febby mengungkapkan bahwa sektor pangan memiliki potensi bisnis yang luas, terutama bagi generasi muda.

BULOG saat ini mengelola jaringan distribusi Rumah Pangan Kita (RPK) yang telah berkembang menjadi lebih dari 27.000 jaringan di seluruh Indonesia.

“Adik-adik Gen Z bisa ikut mendistribusikan beras SPHP, minyak, gula, dan komoditas lainnya hanya bermodal Rp2,5 juta sampai Rp5 juta.
“Tidak perlu punya toko, cukup dari rumah dengan dukungan platform digital. Dan di situ bisa dapat cuan,” jelasnya.

Selain membuka peluang di sektor distribusi, BULOG juga mendorong kemitraan dari hulu hingga hilir — mulai dari kerja sama on-farm dengan petani dan kelompok tani (gapoktan), penyediaan bahan baku bagi pabrik penggilingan di sentra produksi, hingga pembangunan gudang komoditas untuk memperkuat cadangan pangan nasional.

“Kapasitas gudang kami saat ini mencapai 3,8 juta ton, namun kebutuhan terus bertambah seiring peningkatan produksi dalam negeri.
“Generasi muda yang punya lahan bisa membangun gudang komoditas dan bekerja sama dengan BULOG,” ungkap Febby.

Dalam pembahasan mengenai surplus beras nasional tahun 2025 — dengan produksi mencapai 34 juta ton dan konsumsi 31 juta ton — Febby menegaskan pentingnya keberadaan cadangan pangan pemerintah.
“Pemerintah tidak boleh mengambil risiko.

“Ketersediaan beras harus tetap terjamin di seluruh wilayah, termasuk di daerah-daerah sulit akses seperti pegunungan Papua, meskipun biaya distribusinya tinggi,” katanya.

Menutup sesi diskusi, Febby menekankan bahwa BULOG kini tidak hanya fokus pada penugasan beras, tetapi juga membuka ruang kolaborasi di sektor komersial yang lebih dinamis.

“Kami bisa berkolaborasi dalam pemasaran ayam, telur, daging, cabai, dan komoditas pangan lainnya.

“Peluangnya ada, dan ini momentum bagi generasi muda — dari petani menjadi founder, dari lokal menjadi nasional,” tutupnya.***

  • Penulis: Aslam
expand_less