Breaking News
light_mode
Beranda » Tokoh » Sri Susuhunan Pakubuwono XIII Wafat, Akhiri Dua Dekade Kepemimpinan Keraton Surakarta

Sri Susuhunan Pakubuwono XIII Wafat, Akhiri Dua Dekade Kepemimpinan Keraton Surakarta

  • account_circle Muha
  • calendar_month Rab, 5 Nov 2025
Dok. Istimewa

majalahmerahputih.comSri Susuhunan Pakubuwono XIII (PB XIII), raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, wafat pada Minggu (2/11/2025) dalam usia 77 tahun. PB XIII dikenal sebagai sosok yang memimpin Kasunanan Surakarta sejak 2004 dan berhasil menyatukan kembali keraton setelah hampir satu dekade terbelah akibat dualisme kepemimpinan.

PB XIII lahir pada 28 Juni 1948 dan merupakan putra dari Sri Susuhunan Pakubuwono XII. Wafatnya PB XII pada tahun 2004 meninggalkan kekosongan pewaris karena sang raja tidak memiliki permaisuri resmi. Hal ini memunculkan perpecahan internal di kalangan keluarga keraton.

Dua putra PB XII dari ibu yang berbeda, yaitu K.G.P.H. Hangabehi dan K.G.P.H. Tejowulan, masing-masing mengklaim sebagai penerus sah takhta Kasunanan Surakarta. Konflik yang kemudian dikenal sebagai “Raja Kembar Surakarta” itu menyebabkan keraton terbelah selama beberapa tahun.

Hangabehi oleh sebagian besar keluarga dan abdi dalem didaulat sebagai Pakubuwono XIII, sementara Tejowulan memilih keluar dari keraton dan membentuk pemerintahan tandingan.

Setelah berlangsung selama sekitar delapan tahun, dualisme kepemimpinan itu akhirnya berakhir pada tahun 2012. Dalam sebuah rekonsiliasi resmi yang difasilitasi oleh Pemerintah Kota Surakarta dan DPR RI, K.G.P.H. Tejowulan mengakui Hangabehi sebagai PB XIII.

Dalam perjanjian damai tersebut, Tejowulan diberi kedudukan sebagai Mahapatih (kemudian Maha Menteri) dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Harya Panembahan Agung. Sejak itu, pemerintahan Kasunanan Surakarta kembali berjalan di bawah satu kepemimpinan PB XIII.

Dalam kehidupan pribadinya, PB XIII diketahui menikah tiga kali:

  1. Nuk Kusumaningdyah (KRAy. Endang Kusumaningdyah) — bercerai sebelum naik takhta.
  2. Winari Sri Haryani (KRAy. Winari) — bercerai sebelum naik takhta.
  3. Asih Winarni (KRAy. Adipati Pradapaningsih/GKR Pakubuwana) — menjadi permaisuri selama masa kepemimpinan.

Dari pernikahan tersebut, PB XIII dikaruniai tujuh anak, terdiri dari dua putra dan lima putri:

  • Putra:
    • KGPH. Hangabehi (GPH. Mangkubumi)
    • KGPAA. Hamangkunegara Sudibya Rajaputra Narendra Mataram (KGPH. Purubaya)
  • Putri:
    • GKR. Timoer Rumbaikusuma Dewayani (GRAy. Rumbai Kusuma Dewayani)
    • GRAy. Devi Lelyana Dewi
    • GRAy. Dewi Ratih Widyasari
    • BRAy. Sugih Oceania
    • GRAy. Putri Purnaningrum

PB XIII juga meninggalkan tujuh cucu, yakni BRM. Pramuditho Adiwiwoho, BRAj. Shayna Lelyana, BRM. Noah Satrio, BRM. Yudhistira Rachmat Saputro, BRM. Hersar Dewa, BRAj. Arumi Larasati, dan BRM. Suryo Wijaya Basudewa.

Selama dua dekade kepemimpinannya, PB XIII dikenal sebagai raja yang berupaya menjaga warisan budaya dan adat Keraton Surakarta, sekaligus beradaptasi dengan dinamika zaman modern. Ia aktif menjalin hubungan dengan pemerintah pusat dan daerah dalam upaya revitalisasi budaya Jawa dan pelestarian kawasan cagar budaya keraton.

PB XIII juga dikenal sebagai tokoh yang mendorong perdamaian dan kesatuan di tubuh Kasunanan, serta membuka ruang dialog antara keraton dan masyarakat luas. Jenazah PB XIII diberangkatkan ke Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri, Bantul, Yogyakarta, pada Rabu (5/11/2025). Dalam prosesi pemberangkatan, putra mahkota KGPAA Hamangkunegoro (Gusti Purboyo) menyatakan diri naik takhta sebagai Paku Buwono XIV, melanjutkan kepemimpinan ayahandanya.

  • Penulis: Muha
expand_less