Breaking News
light_mode
Beranda » Nasional » Krisis Penduduk di Jepang, RI Masih Aman dan Stabil

Krisis Penduduk di Jepang, RI Masih Aman dan Stabil

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sel, 24 Feb 2026
Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN Budi Setiyono (dua dari kiri) dalam diskusi bersama UNFPA terkait penurunan fertilitas di Jakarta, Senin (23/2/2026).

MAJALAHMERAHPUTIH.COM – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menyatakan masyarakat Indonesia tak perlu khawatir akan terjadinya krisis penduduk seperti di Jepang atau Korea Selatan karena angka kelahiran total di Indonesia masih relatif aman dan stabil.

Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN Budi Setiyono mengatakan, angka kelahiran total atau total fertility rate (TFR) di Indonesia saat ini tercatat berada di angka 2,12, mendekati angka ideal replacement level atau pergantian keturunan sebesar 2,1.

“Kalau kita lihat secara nasional, Indonesia sudah berada sangat dekat dengan replacement level (setiap satu generasi orang tua digantikan dengan dua anak yang menjadi keturunannya), artinya secara umum struktur demografi kita masih stabil, meski masih terdapat disparitas TFR di beberapa wilayah,” ujar dia di Jakarta, Senin.

Menurutnya, wilayah perkotaan dengan kultur urban yang kuat memang menunjukkan kecenderungan penurunan angka kelahiran, sementara daerah perdesaan dan wilayah timur Indonesia masih memiliki TFR yang relatif tinggi. Kondisi tersebut justru menjadi penopang keseimbangan demografi nasional.

“Tugas pemerintah adalah menjaga keseimbangan itu. Di satu daerah TFR-nya tinggi, di daerah lain rendah, tapi secara nasional kita tetap stabil,” katanya.

Budi menilai kekhawatiran seperti yang terjadi di Korea Selatan dan Jepang yang mengalami penurunan drastis angka kelahiran belum akan terjadi dalam waktu dekat di Indonesia.

Meski demikian, ia mengingatkan agar pemerintah tidak lengah. Program keluarga berencana harus tetap dijaga, termasuk ketersediaan alat kontrasepsi dan sumber daya manusia.

“Jangan sampai karena merasa TFR sudah aman, lalu anggaran dan perhatian terhadap family planning (keluarga berencana) justru dikurangi. Kalau itu terjadi, stabilitas demografi bisa terganggu ke depan,” paparnya.

Dalam pengelolaan kependudukan, pemerintah melalui Kemendukbangga/BKKBN terus bekerja sama lintas sektor dengan berbagai kementerian dan lembaga untuk memastikan keseimbangan demografi tetap terjaga secara berkelanjutan.

  • Penulis: Redaksi
expand_less